Langsung ke konten utama

Postingan

RENUNGAN Oleh : M. Sudirwan Aristoteles pernah mengatakan, bahwa hakikatnya kehidupan setiap orang adalah untuk mencapai kebahagiaan, 'uedomia'. Dalam mencapainya, perlu berproses. Setiap proses, ada sebab akibatnya. Yakni: gagal atau berhasil. Kegagalan atau keberhasilan akan dipengaruhi oleh diri sendiri, dan lainnya. Hakikatnya, kegagalan tidak akan datang dari situasi nan kondusif. Tapi, keberhasilan pun tak datang dengan sendirinya. Dalam menyikapi kemungkinan yang ada itu, dibutuhkan suatu kearifan dalam bertindak, bertutur, dan menilai segala apa yang terjadi. Agaknya, kearifan dalam berprilaku merupakan ukuran nyata suatu kedewasaan. Untuk mencapai kebahagiaan sejati adalah dengan bertindak dewasa. Kebahagiaan selalu diciptakan oleh diri sendiri. Yakni, menerima kanyataan hasil kerja keras kita dengan ikhlas. Semangat jelang tahun 2018, Sahabatku!!!! Semoga kebahagiaan selalu berpihak kepada kita semua.
RENUNGAN AKHIR TAHUN 2017 Oleh : KH Mustofa Bisri (Gus Mus) Ini adalah reningan akhir tahun dari mutiara kata KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Di tengah iklim politik negeri yang makin mudah dipecah belah dengan berita hoax dan ujaran kebencian, pesan Gus Mus layak dijadikan bahan renungan menuju lembaran baru awal 2018 agar tidak membuka tahun dengan melaknati langit. Berikut pesan-pesan Gus Mus. 1. Kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar. 2. Kalau Anda boleh meyakini pendapat Anda, mengapa orang lain tidak boleh. 3. Jangan banyak mencari banyak, carilah berkah. Banyak bisa didapat dengan hanya meminta. Tapi memberi akan mendatangkan banyak dan berkah. 4. Tidak ada alasan untuk tak bersedekah kepada sesama. Karena sedekah tidak harus berupa harta. Bisa berupa ilmu, tenaga, bahkan senyum. 5. Apa yang kita makan, habis. Apa yang kita simpan, belum tentu kita nikmati. Apa yang ki...
SYEKH 'IZZUDDIN BIN' ABDUSSALAM Izzuddin bin 'Abdussalam adalah ahli fiqih (fuqaha') dari madzhab Syafi'i yang terkenal wara ', tawadhu' dan zuhud. Namun, sikap tawaddu'nya sama sekali tidak ada sama keberaniannya mengkritik kekeliruan seorang raja. Syaikh Izzuddin pernah mempin kaum Muslimin. Ia bergelar Sulthan al-Ulama '(pemuka para ulama'). Nama lengkap Syaikh Izzuddin adalah Abu Muhammad Izzuddin Abdul Aziz bin Abdis Salam bin Abu al-Qasim bin al-Hasan bin Humman al-Salami al-Dimasyqi al-Syafi'i. Dilahirkan di Damaskus pada tahun 577 H. Pidato ulang jenis lain lahir pada tahun 578 H. "Izzuddin" (kemuliaan agama) adalah gelar yang diberikan berkatkarya kepakarannya dalam agama. Beliau juga disebut Sulthan al-Ulama (pemuka para ulama '). Gelar ini diberikan oleh muridnya, Ibnu Daqiq al-'Id sebagai bentuk penghargaan atas atas kerja keras kedekatan para ulama pada masanya. Usaha itu diimplementasikan dalam sikap-s...
WALI QUTUB HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF GRESIK Al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, beliau telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Hal itu telah diakui dan mendapat legitimasi dari mereka yang hidup sezaman dengan beliau. Berikut ini beberapa komentar dari mereka. Sayyidina Al-Imam Al-Quthubil wujud Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi; “Kelak akan ada seorang murid ku yang nanti memiliki kekeramatan sama dengan-ku namanya adalah Abu Bakar Assegaf.” Ternyata beliau adalah Sayyidina Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf wali quthub gresik. Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar berkata, “Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. Sungguh al Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya (leluhurnya)”. Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Al-Haddad berkata, “Sesungguhnya Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Asseg...
Perjuangan KH Said Aqil Siroj  Pertahankan Madrasah Diniyah yang Tak Diketahui Publik Era reformasi saat ini koreksi atas era otoriter sebelumnya. Ciri era reformasi diantaranya penghormatan terhadap kekuatan civil society dan ruang luas demokrasi. Presiden Jokowi adalah presiden ketiga dari kalangan sipil yang diuji komitmennya terhadap nilai-nilai Pancasila di era reformasi. Sejauh manakan kemampuan Pak Jokowi mengimplementasikannya? Satu kasus dapat kita jadikan pisau analisa, yaitu kelahiran Perpres N0.87/2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Sejak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tiba-tiba mensahkan Permendikbud No.23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang mengatur sekolah 8 jam sehari selama 5 hari alias full day school pada 12 Juni 2017, para kiai dari penjuru negeri gelisah. Kemendikbud sedang memainkan jurus represive state aparatus. Rupanya era reformasi yang bercirikan partisipasi masyarakat dan demokrasi diabaikan Kemendikbud. Nahdlatul Ulama ti...
M. SUDIRWAN MEMBERIKAN PENGHARGAAN PESERTA TERBAIK DIKLATSAR PAC SINGGAHAN Untuk mewujudkan kader kader militant khususnya di kebanseran PAC Singgahan melaksanakan Latihan Diklatsar Banser,  yang tepat dilaksanakan kemarin mulai tanggal 22-24. Hal ini dilaksankan sebagai wujud komitmen satkoryon singg a h a n untuk mencatak kader kader militan di Singgahan “ Kita melaksanakan diklatsar ini sebagai wujud komitmen kita kepada Satkorcab Tuban Untuk mencetak kader kader yang militan di bumi singghan ini, dan Al hamdulillah kita mampu untuk itu terbukti selama 3 hari kita mampu menggembleng peserta hingga sampai akhir” tutur satkoryon Kec Singgahan Ditempat terpisah Komandan Latihan ( Ndan Lat )  Sahabat M. Sudirwan menuturkan bahwasanya kegitan ini diikuti 119 Peserta dan berlangsung selama tiga hari dimulai hari jum’at hingga Minggu “ Alhamdulillah kegiatan ini diikuti oleh 119 peserta dan berlangsung selama tiga hari mulai hari jum’at hingga minggu, dari ...
TASAMMUH Oleh : M. Harun, MM Sebagai kader Ansor kita wajib menjunjung tinggi perbedaan perbedaan yang ada di negeri ini, Perbedaan merupakan sunnatullah yang mesti diakui keniscayaannya. Allah menciptakan manusia berbeda – beda, ada laki- laki, ada perempuan. Dia juga mentaqdirkan manusia terdiri atas berbagai bangsa dan suku. Namun seperti dinyatakan oleh-Nya sendiri bahwa perbedaan – perbedaan tersebut bukan untuk melebihkan satu dari yang lainnya dan untuk berpecah belah, namun sebaliknya untuk lita’arafu (saling mengenal, saling menghargai, saling menolong); dan sekaligus untuk mengukur dan membedakan tingkat ketaqwaan satu dari yang lainnya (Q.S. al-Hujurat: 13). Perbedaan adalah orkestra kehidupan, di mana bunyinya satu sama lain berbeda, namun jika diatur dengan baik akan menimbulkan suara yang indah dan menyejukkan jiwa. Tak ada orkestra yang indah kalau alat musik maupun suaranya sama. Orkestra yang baik dihasilkan dari harmoni nada-nada yang berbeda. Jika reali...