Langsung ke konten utama
TUJUH ALASAN MEMILIH NU
Abdul Manan Ghoni


Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan Ghani menyebutkan, ada tujuh alasan mengapa umat Islam harus memilih dan masuk ke dalam Nahdlatul Ulama (NU).

1.      NU didirikan para ulama.
NU merupakan ormas Islam yang didirikan para ulama pada 1926, jauh sebelum Indonesia merdeka. Hadratussyekh Hasyim Asy'ari didaulat menjadi Rais Akbar NU atau pimpinan tertinggi sejak NU didirikan hingga ia wafat.
2.       Ulama adalah pewaris nabi.
Para nabi diutus ke dunia untuk memperkenalkan Allah kepada umat manusia dan mengajak mereka untuk menyembah Allah. Setelah para nabi tersebut wafat, maka yang menjadi penerusnya adalah para ulama. "Islam datang ke Nusantara dibawa oleh ulama sebagai pewaris nabi," Kata Kiai Manan dalam acara Pelatihan Pemuda Pelopor 2017 di Boalemo Gorontalo, Selasa (5/12).
3.      Ulama NU adalah penerus Wali Songo.
Di dalam sejarahnya, Wali Songo adalah para penyebar Islam di wilayah Nusantara. Mereka menyebarkan Islam dengan cara-cara yang damai, sejuk, dan menggunakan pendekatan budaya lokal sehingga dalam kurun waktu yang singkat berhasil mengislamkan mayoritas masyarakat Nusantara, khususnya Jawa.
4.      NU mengusung paham Ahlussunnah wal Jama'ah. Dalam bidang akidah,
NU mengikuti Abu Musa Al Asy'ari dan Abu Hasan Al Maturidi. Fikihnya mengikuti imam empat yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali"Sedangkan tasawufnya mengikuti Imam Ghazali," ujar Kiai Manan.
5.      Sanad keilmuan NU sampai kepada Nabi Muhammad.
 Ilmu-ilmu agama yang diajarkan di lingkungan NU memiliki sanad yang tidak terputus hingga ke penulis kitab, bahkan kepada Nabi Muhammad.
6.      NU berdiri di atas kebenaran,” tambahnya.

7.      NKRI harga mati.

Bagi NU, keindonesiaan dan keislaman itu dalam satu tarikan nafas. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Ulama dan warga NU menganggap bahwa NKRI bukan negara agama tertentu dan juga bukan negara sekuler, namun Indonesia itu seperti Negara Madinah yang dibangun atas dasar kesepakatan antar elemen bangsa yang berbeda untuk hidup bersama di bawah bendera NKRI. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Santri Aswaja dan Media Sosial Oleh: M. Faidlun Ni’am Keberadaan gadget mendorong perubahan pola perilaku. Berkomunikasi dengan sesama bisa menjadi lebih efektif dan efesien. Orang mau bercengkrama dengan siapapun, kapanpun dan di manapun menjadi mudah. Maraknya media sosial (medsos) akhir-akhir ini membuktikan bahwa jarak yang jauh bukanlah sebuah hambatan. Semua yang berjauhan menjadi terasa dekat. Dunia yang luas seluruhnya 510.072.000 km persegi menjadi kecil, persis ungkapan orang-orang tua jaman dulu “ donyo gedene namung sak godong kelor ” (ternyata dunia tak sebesar daun kelor). Pesatnya kemajuan internet ( interconnected networking ) memberi dampak signifikan terhadap pola hubungan antara sesama manusia. Jika dulu, media komunikasi dengan sejawat hanya menggunakan alat elektronik seperti komputer atau telepon rumah, sekarang sudah beralih pada penggunaan gadget seperti handphone, notebook, netbook, laptop dan lain sebagainya. Gadget sekarang sudah menjadi kebutuha...
DETASEMEN WANITA BANSER (DENWATSER) Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Lombok NTB pada tanggal 23-25 November 2017 memberikan ruang lingkup kepada kader-kader wanita NU militer  dengan nama Detasemen Wanita Banser (Den. Watser NU) yang garis komandonya langsung di bawah Ansor dan Banser. Bersama Banser,  Denwatser akan saling melengkapi dalam menjadi benteng ulama dan NKRI. Denwatser bermula sejak tahun 1960-an. Dulu Denwatser bernama Barisan Perempuan NU Militer.  Pada saat itu negara membutuhkan wanita-wanita yang berjiwa militer guna menghadapi serangan wanita PKI (Gerwani). Setelah PKI tumpas, orde baru menginstruksikan kepada seluruh warga Indonesia bahwa tugas kemiliteran adalah tugas TNI.  Hal tersebut menyebabkan wanita-wanita militer NU dirasa tidak dibutuhkan lagi sehingga tidak ada pengkaderan,  lama-kelamaan akhirnya hilang. Sebelum munculnya PKI,  sebenarnya wanita NU telah ada yang berjuang dalam bidang kemiliteran, y...