Santri Aswaja dan Media Sosial
Oleh: M. Faidlun Ni’am
Keberadaan gadget mendorong perubahan pola
perilaku. Berkomunikasi dengan sesama bisa menjadi lebih efektif dan efesien. Orang
mau bercengkrama dengan siapapun, kapanpun dan di manapun menjadi mudah.
Maraknya media sosial (medsos) akhir-akhir ini membuktikan bahwa jarak yang
jauh bukanlah sebuah hambatan. Semua yang berjauhan menjadi terasa dekat. Dunia
yang luas seluruhnya 510.072.000 km persegi menjadi kecil, persis ungkapan orang-orang
tua jaman dulu “donyo gedene namung sak godong kelor” (ternyata dunia
tak sebesar daun kelor).
Pesatnya kemajuan internet (interconnected networking) memberi dampak signifikan terhadap pola hubungan
antara sesama manusia. Jika dulu, media komunikasi dengan sejawat hanya menggunakan
alat elektronik seperti komputer atau telepon rumah, sekarang sudah beralih
pada penggunaan gadget seperti handphone, notebook, netbook, laptop dan lain
sebagainya. Gadget sekarang sudah menjadi kebutuhan yang tak bisa lepas
dari aktivitas sehari-hari. Hampir semua lini kehidupan menggunakan
gadget sebagai mediumnya baik untuk
urusan pekerjaan atau untuk memenuhi kebutuhan bersosial.
Gadget Bikin Kecanduan
Pada dasarnya teknologi diciptakan untuk
memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia dalam melakukan aktivitas
sehari-hari dan memberikan nilai yang positif. Meski begitu bisa saja memungkinkan digunakan untuk hal-hal negatif.
Seiring perkembangan jaman, gadget juga selalu
berbenah dengan makin banyaknya aplikasi canggih yang berkembang. Seperti
yang diketahui, saat ini perkembangan gadget di Indonesia pertumbuhannya cukup
pesat. Bahkan peminat gadget di Indonesia semakin bertambah dan hampir semua
kalangan masyarakat gemar menggunakannya. Beberapa perusahaan
gadget kini tengah berlomba-lomba untuk mengembangkan produk dengan keunggulan
masing-masing. Jadi bisa
dipastikan beberapa tahun ke depan, teknologi gadget semakin trend. Sekarang ini tidak hanya kalangan menengah ke atas saja yang dapat memiliki tablet dan smartphone.
Namun kalangan bawah pun begitu mudahnya memiliki
sebuah tablet dan smartphone karena semakin bersaingnya harga di pasaran.
Kemajuan gadget yang semakin deras harus
diwaspadai, terutama dengan munculnya istilah gadgetmania atau julukan
bagi pecandu gadget. Menurut salah
satu pakar teknologi informasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dimitri
Mahayana: sekitar 5-10 persen gadget mania atau pecandu gadget terbiasa
menyentuh gadgetnya sebanyak 100-200 kali dalam
sehari. Jika waktu efektif manusia beraktivitas 16 jam atau 960 menit sehari, dengan demikian orang yang kecanduan gadget
akan menyentuh perangkatnya itu 4,8 menit sekali. Seorang pecandu gadget akan sulit untuk menjalani kehidupan nyata,
misalnya mengobrol. Perhatian seorang pecandu gadget hanya akan tertuju kepada
dunia maya. Dan bahkan jika dia dipisahkan dengan gadget, maka akan muncul
perasaan gelisah.
Dakwah lewat Medsos. Mengapa Takut?
Seorang santri Aswaja
dalam hal ini adalah kader kader Ansor bagaimanapun juga harus berupaya menjadi agen
sosial yang memang harus berkecimpung di tengah masyarakat, baik dalam skala
mikro maupun makro, struktural ataupun kultural.
Keberadaan hal baru terutama dalam ranah teknologi
informasi yang belakangan marak memunculkan media sosial adalah bagaikan pisau
bermata ganda. Bisa bermanfaat tetapi sebaliknya juga berbahaya. Upaya
identifikasi terhadap hal baru tersebut menjadi penting agar bisa diketahui
fungsi, baik sisi positif maupun sisi negatif. Hal inilah yang perlu
ditekankan oleh para santri dalam menghadapi boomingnya media
sosial online semacam facebook,
twitter, youtube, instagram dan lain
sebagainya.
Media sosial bisa berbuah negatif manakala hanya
diarahkan pada hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Namun sebaliknya, jika media
sosial didayagunakan untuk hal yang bermanfaat misalnya dakwah maka hasilnya
pasti positif.
Dakwah berarti mengajak atau menyeru. Dakwah
tidak selalu harus dilakukan di mimbar pengajian, pesantren,
majelis ta’lim, masjid, mushalla, madrasah atau yang serupa. Selama esensinya
menyampaikan kebaikan walau hanya sedikit itu sudah bernilai dakwah sebagaimana
sabda Nabi Muhammad SAW.
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu,
bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَلِّغُوا عنِّى وَلَوْآيَةً
“Sampaikanlah dariku
walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)
Metode dakwah harus diupayakan tampil keren dan
kreatif supaya hasilnya tetap menarik. Berdakwah lewat medsos berarti harus
menulis, mengunggah dan men-share
konten yang bermanfaat. Asalkan
disertai niat yang ikhlas maka bernilai kebaikan yang berlipat.
Cara berdakwah lewat medsos bisa dilakukan dengan
membuat konten yang menarik. Konten adalah raja, sebaik apapun teknik yang dikuasai,
jika kontennya biasa saja, maka akan terlihat biasa. Sebaliknya, ketika kontennya luar biasa, walaupun dikemas
dengan cara sederhana, maka pasti
akan viral dengan sendirinya.
Konten ini bisa
berupa apapun, baik tulisan,
gambar ataupun video. Jika belum mampu membuatnya sendiri, langkah paling mudah
adalah dengan men-share postingan-postingan bermanfaat dari sumber
terpercaya, misalkan fanpage ulama atau siapapun yang dianggap mempunyai konten yang
bagus. Jika menemukan tulisan
dari para ulama misalnya, bagikanlah dan tambahkan gambar yang bisa mendukung
isi tulisan tersebut namun terlebih dahulu harus dipastikan sumbernya. Selain
itu konten harus disesuaikan dengan trend yang sedang berkembang atau
isu yang sedang ramai diperbincangkan selama tidak menyentuh ranah yang berbau SARA.
Berita Hoax, Ayo dilawan!
Seiring perkembangan era
digital terutama maraknya media sosial, berita hoax alias berita bohong telah menjelma
begitu menakutkan bagi masyarakat. Berita hoax dapat
menyebar secara luas karena sekarang ini setiap manusia bisa ‘berbicara’ dalam beragam rupa dan wujud, terutama rangkaian aksara dan gambar lewat media yang dikenal dengan istilah media
sosial. Meskipun sejatinya hoax tidak melulu hadir melalui media sosial, bisa
juga melalui media massa. Di saat
yang sama, kepentingan-kepentingan tertentu telah menjadikan upaya masif
menggiring opini publik yang akhirnya
melahirkan ‘perang’ opini di media sosial.
Sebenarnya merebaknya
berita hoax atau palsu itu bersumber dari lisan atau lidah yang tidak
bertanggung jawab. Terdapat sebuah ungkapan, “lidah memang tidak bertulang”
yang dengan mudahnya menjulur dan bergerak kesana-kemari tanpa kendali sehingga
dengan gampang memnyebarkan berita-berita hoax.
Bukahkah Nabi Muhammad SAW. telah mengajarkan
untuk menjaga lisan supaya manusia tidak terjerumus ke dalam kebinasaan dan
kehancuran.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله
عليه و سلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ
وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ سُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟
قَالَ: اْلفَمُ وَ اْلفَرَجُ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang faktor terbesar yang dapat
memasukkan manusia ke dalam surga?. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah
dan akhlak yang baik”. Beliau juga ditanya tentang penyebab terbanyak
yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka?. Beliau menjawab, “Mulut dan farji
(kemaluan)”. [HR at-Turmudzi).
Hadits ini dengan jelas menerangkan bahwa
dosa yang banyak dikerjakan oleh manusia dan yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam neraka adalah lisan. Dengan
lisan, mereka berdusta, bersaksi atau bersumpah palsu, mencacimaki, mencela,
mengutuk, berkata-kata keji, mengejek, berfatwa tanpa dasar syar’i, berdakwah
kepada kesesatan, melakukan buhtan (memfitnah), meng-ghibah
(menggunjing) dan lain sebagainya.
Pada masa sekarang ini dosa lisan tidak sedikit yang dituangkan dalam
bentuk tulisan di buku, majalah, tabloid, surat
kabar, tulisan di internet melalui media
sosial seperti facebook, twitter, instagram dan lain-lain.
Bahkan terkadang lebih berbahaya
dari bahasa lisan, karena berdampak lebih masif kepada komunitas yang luas.
Supaya selamat dari bahaya penyebaran berita hoax,
maka sebelum mengunggah dan men-share berita yang belum terdapat referensi
yang jelas harus terlebih dahulu di-tabayyun sebagaimana yang diajarkan
oleh Allah SWT.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ
فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا
فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang
fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka
tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya
pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal
atas perlakuan kalian.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Sikap tabayyun harus selalu ditradisikan dalam
kehidupan masyarakat. Tidak hanya dalam aspek komunikasi media sosial saja tapi
juga segala aktivitas sehari-hari. Dalam konteks ini, santri harus berani
tampil menjadi pelopor dan uswah dalam kesantunan komunikasi baik verbal
maupun tulisan melalui media sosial dan mencegah maraknya penyebaran berita
hoax di tengah-tengah 
BalasHapusJozt gandost
wow
BalasHapus