Langsung ke konten utama

PAC MONTONG HEBOH



PAC ANSOR MONTONG MENGGELAR DTD
Alhamdulillah untuk kesekian kalinya PC GP Ansor kab. Tuban mampu menunjukkan eksistensinya didalam mengkader dan menggerakkan Kepengurusan Tingkat PAC Untuk Berperan Aktif didalam menghidupakan Organisasi berbasis Kepemudaan Tersebut
Pada kesempatan kali ini GP. ANSOR Kab Tuban mengadakan Pengkaderan Yang dilaksakana Oleh PAC Montong Pada tanggal 01-03 Desember 2017, yang sepekan sebelumnya didakan hal yang serupa di Jatirogo tak tanggung tanggung peserta yang ikut didalam DTD yang dilaksakan Oleh PAC Montong Melebihi target perkiraan, pesertanya hingga mencapai 170 Peserta dan ini merupakan peserta terbanyak dalam kurun waktu dua tahun sejak dilantiknya Gus Syafiq Menjadi Ketua PC. GP Ansor Kab. Tuban
Ketua PAC Montong Wahid Moh. Ali Mengatakan kegiatan ini adalah merupakan agenda program kerja dari PAC Montong untuk mengkader anggotanya agar menjadi manusia yang berguna, aktif, tanggap serta militan didalam berorganisasi.
Lebih lanjut ketua PAC Montong mengungkapakan peserta Diklat Terpadu Dasar ini diikuti oleh Perwakilan semua Ranting se kecamatan Montong dan juga diikuti Kecamatan sekitar dengan total peserta 170 peserta
Dia berharap kegiatan selama tiga hari yang bertempat di Dusun Kerokan Desa Jetak, Kecamatan Montong kedepan ini dapat berlangsung dengan aman dan terkendali serta kondusif.
Kami berharap sekali kegiatan ini dapat berjalan dengan aman, kondusif serta peserta dapat menjaga kondisi badan dengan baik mengingat akhir akhir ini intensitas hujan semakin meningkat.
Acara tepat jam 14.00 di mulai selain diikuti semua peserta dan tamu undangan se keamatan montong juga diikuti oleh seluruh jajaran pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tuban dan sebagai inspektur upacara wakil satkorcab Bapak Sholeh dari Soko sekaligus secara Resmi membuka kegiatan DTD PAC GP Ansor Kec. Montong.
Di tempat terpisah M. Harun, MM yang biasa akrab dipanggil Kaji Harun yang juga merupakan Sekeraris PC GP Ansor Seusai Acara Pembukaan mengungkapan bahwa kegiatan ini adalah langkah kongkrit dari PC untuk mengkader anggotanya untuk menjadi Anggota yang militan yang natinya bisa dan mampu menjaga Keutuhan NKRI serta mengabdi kepada Agama bangsa dan Negara. Kegiatan ini akan berlangsung hingga tiga hari kedepan. Kami sangat mengapresiasi sekali dengan langkah yang dilakukan oleh Sahabat Wahid Selaku Ketua PAC Montong ini didalam menggerakkan kegiatan ini sungguh luar biasa sekali peserta DTD Ini, imbuhnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Santri Aswaja dan Media Sosial Oleh: M. Faidlun Ni’am Keberadaan gadget mendorong perubahan pola perilaku. Berkomunikasi dengan sesama bisa menjadi lebih efektif dan efesien. Orang mau bercengkrama dengan siapapun, kapanpun dan di manapun menjadi mudah. Maraknya media sosial (medsos) akhir-akhir ini membuktikan bahwa jarak yang jauh bukanlah sebuah hambatan. Semua yang berjauhan menjadi terasa dekat. Dunia yang luas seluruhnya 510.072.000 km persegi menjadi kecil, persis ungkapan orang-orang tua jaman dulu “ donyo gedene namung sak godong kelor ” (ternyata dunia tak sebesar daun kelor). Pesatnya kemajuan internet ( interconnected networking ) memberi dampak signifikan terhadap pola hubungan antara sesama manusia. Jika dulu, media komunikasi dengan sejawat hanya menggunakan alat elektronik seperti komputer atau telepon rumah, sekarang sudah beralih pada penggunaan gadget seperti handphone, notebook, netbook, laptop dan lain sebagainya. Gadget sekarang sudah menjadi kebutuha...
DETASEMEN WANITA BANSER (DENWATSER) Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Lombok NTB pada tanggal 23-25 November 2017 memberikan ruang lingkup kepada kader-kader wanita NU militer  dengan nama Detasemen Wanita Banser (Den. Watser NU) yang garis komandonya langsung di bawah Ansor dan Banser. Bersama Banser,  Denwatser akan saling melengkapi dalam menjadi benteng ulama dan NKRI. Denwatser bermula sejak tahun 1960-an. Dulu Denwatser bernama Barisan Perempuan NU Militer.  Pada saat itu negara membutuhkan wanita-wanita yang berjiwa militer guna menghadapi serangan wanita PKI (Gerwani). Setelah PKI tumpas, orde baru menginstruksikan kepada seluruh warga Indonesia bahwa tugas kemiliteran adalah tugas TNI.  Hal tersebut menyebabkan wanita-wanita militer NU dirasa tidak dibutuhkan lagi sehingga tidak ada pengkaderan,  lama-kelamaan akhirnya hilang. Sebelum munculnya PKI,  sebenarnya wanita NU telah ada yang berjuang dalam bidang kemiliteran, y...