Langsung ke konten utama
MATA AIR NAHDLATUL ULAMA
Oleh: Muhammad Makhdum *)


http://ansortubanbumiwali.blogspot.co.id Jika kita hitung secara kasar, maka jarak waktu berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama --sejak awal mula perintisannya-- hingga sekarang sudah hampir mendekati 90 tahun. Demikian pula jarak kehidupan para ulama dan kyai sepuh yang mendirikannya pada tempo dulu dengan kehidupan kita pada jaman sekarang. Ibarat air sungai, maka kehidupan kita pada masa kini sudah cukup jauh dari sumber mata airnya, dan hampir mendekati muara. Terlebih dengan lompatan kemajuan teknologi informasi yang spektakuler, jangankan 90 tahun, sebulan kemarin saja sudah dirasa sangat jadul dan ketinggalan jaman.
Pada masa sekarang ini, ajaran dan keteladanan yang diberikan para ulama pendahulu kita semakin kabur dari kehidupan manusia. Kita hanya terkagum-kagum mendengar kisah perjuangannya, tetapi sering lupa untuk meneladaninya. Pencemaran ideologi dan budaya membuat kita lebih sibuk mengejar kehidupan dunia, menumpuk harta, memburu kursi dan gengsi, serta mencari kejayaan pribadi.
Sama seperti air sungai yang baru saja meninggalkan sumber mata airnya, tentunya air tersebut masih sangat jernih, sangat menyegarkan ketika diminum, dan menyejukkan saat dipakai mandi atau sekedar membasuh muka. Para ulama dan kyai sepuh jaman dulu pun demikian adanya, mereka semua masih ikhlas hatinya, suci pikirannya, lembut tutur katanya, anggun perilakunya, serta luas dan dalam khazanah keilmuannya.
Marilah sejenak kita mengenang Mbah KH. Kholil Bangkalan, beliau adalah seorang ulama kharismatik yang sangat besar pengaruhnya, sosok sufi yang dikenal sebagai waliyullah, ahli dalam bidang Ulumul Qur’an sekaligus hafidz, serta ahli ilmu alat. Subhanallah, berkat kelebihan tersebut, beliau menjelma menjadi Sang Maha Guru seluruh nusantara, yang melahirkan ribuan murid dan santri yang luar biasa hebatnya. Hampir semua tokoh dan ulama besar yang ada di nusantara pernah menimba ilmu kepadanya.
Coba kita tengok sebentar sosok Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, salah seorang santri Mbah KH. Kholil Bangkalan ini bukan hanya dikenal sebagai seorang yang ‘alim, tetapi juga seorang faqih. Pengembaraan dan ketekunannya dalam mencari ilmu serta laku spiritual mengantarkannya menjadi seorang sufi dan pemikir brilian. Pemikiran beliau tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan (tauhid, tasawuf, fiqih dan hadits), tetapi juga pada ranah pendidikan, politik, dan demokrasi.
KH. Wahab Chasbullah pun demikian adanya, beliau merupakan macan Nahdlatul Ulama. Sang pendobrak, sosok cerdik cendekia dan pemberani yang selalu membela umat di setiap tempat, kapan saja dan di manapun berada, jiwa raganya senantiasa disedekahkan untuk kepentingan umat dan agamanya. 
Belum lagi sosok KH. Bisyri Syansuri, seorang ulama besar dan pejuang yang gigih membela kebenaran. Ahli hukum dan kenegaraan yang menjadi rujukan umat Islam. Ia merupakan sosok yang bersih, teguh pendirian, tetapi sangat ramah dan toleran.
Demikianlah, semua sosok di atas merupakan teladan mulia, pewaris para nabi, kepanjangan tangan Rasulullah SAW yang senantiasa menebarkan rahmat dan kasih sayang kepada semua umat, sebagaimana sifat Islam itu sendiri yang rahmatan lil ‘alamin. Beruntunglah orang-orang yang pernah mendapat cipratan keilmuan dari salah satunya, atau paling tidak bisa menangi kehidupannya saja merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai harganya.
Saat ini jaman sudah berubah, sosok teladan seperti di atas sangatlah sulit ditemukan pada masa sekarang. Jika kehidupan kita ibaratkan sungai, maka sungai kita telah semakin jauh dari mata air, semakin banyak pula sampah kehidupan yang mencemari hati dan pikiran manusia. Bahkan berupaya meneladani kehidupan seperti beliau pun banyak godaan dan rintangan. Teladan kehidupan yang kita dapatkan semakin hari semakin berkurang, sebaliknya kita justru dipertontonkan dengan berbagai adegan kehidupan yang jauh dari tatanan. Perilaku kekerasan, kesewenang-wenangan, penindasan, kemunafikan, kejahiliyahan, dan berbagai macam kekonyolan menghiasi sekeliling kita dalam keseharian. Akibatnya, lambat laun diri kita pun menjadi ikut tercemar, kotor, dan jauh dari nilai-nilai keteladanan. Saking keruhnya, kita sangat kesulitan membedakan kebenaran dan kebathilan, antara tuntunan atau tontonan. Naudzubillah.
Sebagai manusia yang beriman, tentunya kita tidak boleh membiarkan diri kita tercemar oleh limbah yang semakin parah. Sedikit demi sedikit kita bersihkan kembali sampah-sampah yang mengotori sungai kehidupan kita. Kita saring kembali agar menjadi bersih. Jika perlu, kita harus bersusah payah menempuh jalan setapak untuk mendatangi mata air keteladanan itu, untuk kita rasakan kesegarannya, kita nikmati kesejukannya.
Kendati semakin berkurang, masih banyak sosok ulama pada jaman sekarang yang masih bisa kita teladani kehidupannya, mereka yang wajahnya bercahaya karena keagungan akhlaq, kesucian hati dan kedalaman ilmunya, bukan mereka yang wajahnya bercahaya karena make up dan sorot lampu kamera. Di sekeliling kita, banyak pesantren yang sarat uswah dan terjaga kemurniannya. Masih ada sumber mata air yang jernih yang dapat kita datangi dan kita ambil manfaatnya.
Akhirnya, semua kembali kepada diri kita, masihkan kita mau melakukannya, atau justru mengabaikannya dan malah semakin asyik bergelimang sampah dan limbah yang lainnya? Kita mendekati ulama’ atau malah menjauhinya, atau bahkan menghujatnya? Kita senang dengan air bersih atau air yang tercemar?


*) Penulis adalah Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Widang 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beri Dukungan untuk Palestina, MWCNU Plumpang akan adakan acara Doa bersama dan Isthigosah Kubro Beberapa hari terakhir dunia dikejutkan dengan pernyataan kontroversial Presiden Amerika Donald Trump perihal klaim sepihak yang mengakui Jerussalem sebagai Ibu Kota Israel. Tak pelak, klaim kontroversial tersebut segera memicu kecaman dari berbagai belahan dunia. Yang lebih menyedihkan lagi, klaim tersebut membuat proses perdamaian di Timur Tengah terancam dan menyulut rentetan kerusuhan antara penduduk Palestina dan Tentara Zionis Israel. Karena itu sebagi bagian dari dukungan kemanusiaan dan dukungan sebagai sesama muslim, Para Kiyai NU dan berbagai elemen masyarakat di kecamatan Plumpang akan mengadakan Isthigosah dan Doa bersama bertajuk “Munajjah Mengetuk Pintu Langit, untuk Keselamatan Palestina”. Acara yang rencananya akan digelar pada Minggu, 17 Desember 2017 ini sepenuhnya didukung oleh Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Plumpang serta didukung oleh b...
Santri Aswaja dan Media Sosial Oleh: M. Faidlun Ni’am Keberadaan gadget mendorong perubahan pola perilaku. Berkomunikasi dengan sesama bisa menjadi lebih efektif dan efesien. Orang mau bercengkrama dengan siapapun, kapanpun dan di manapun menjadi mudah. Maraknya media sosial (medsos) akhir-akhir ini membuktikan bahwa jarak yang jauh bukanlah sebuah hambatan. Semua yang berjauhan menjadi terasa dekat. Dunia yang luas seluruhnya 510.072.000 km persegi menjadi kecil, persis ungkapan orang-orang tua jaman dulu “ donyo gedene namung sak godong kelor ” (ternyata dunia tak sebesar daun kelor). Pesatnya kemajuan internet ( interconnected networking ) memberi dampak signifikan terhadap pola hubungan antara sesama manusia. Jika dulu, media komunikasi dengan sejawat hanya menggunakan alat elektronik seperti komputer atau telepon rumah, sekarang sudah beralih pada penggunaan gadget seperti handphone, notebook, netbook, laptop dan lain sebagainya. Gadget sekarang sudah menjadi kebutuha...
SEJARAH KELAM PEMBUNUHAN SESAMA MUSLIM YANG TAK PERNAH TERLUPAKAN Gelombang JARGON Kembali ke Al Qur'an dan As Sunnah Sangat Deras Sekali . Sebuah fenomena ??? Akankah terulang Sejarah Akhir priode khulafaur rosyidin di NKRI yg kita cintai .... ?  “Hukum itu milik Alloh, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.” Itulah teriakan Abdurrohman bin Muljam Al Murodi (Khowarij) ketika menebas tubuh Sayyidina Ali bin Abi Tholib, karomallohu wajhah pada saat bangkit dari sujud sholat Shubuh pada 19 Romadlon 40 H itu. Abdurrohman bin Muljam menebas tubuh Sayyidina Ali bin Abi Tholib dengan pedang yang sudah dilumuri racun yang dahsyat. Racun itu dibelinya seharga 1000  Dinar. Tubuh Sayyidina Ali bin Abi Tholib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. 3 hari berikutnya (21 Romadlon 40 H) nyawa sahabat yang telah dijamin oleh Rosululloh SAW menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam. Sayyidina...